Pertemuan ke-13
Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) 30 PGRI
Senin, 13 November 2023
Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) 30 PGRI
Senin, 13 November 2023
Senin, 13 November 2023. Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) ke-30 memasuki pertemuan ke-13. Tema kelas malam ini yaitu KAIDAH PANTUN bersama narasumber Miftahul Hadi, S.Pd melalui daring via WA Group KBMN pukul 19.00 WIB.
Baju bersulam berbahan katun,
Sandingkan dengan kain kebaya
Senin malam kita berpantun,
Lestarikan budaya Indonesia
Siapa yang tak kenal pantun? Ya pantun adalah salah satu kekayaan Indonesia yang bisa dipelajari siapa saja. Akankah kita lupakan dan menjadi milik bangsa lain? No Way🙅♀️🙅🏼♂️ Itu jangan sampai terjadi. So, kita harus bisa menjaga dan melestarikannya. Dengan apa? Tentunya dengan mempelajarinya. Bagaimana cara membuat pantun yang benar dan indah? Apa itu isi dan sampiran? Malam ini kita akan bertemu dengan pakar pantun dari Kota Demak.
Berkat pantun juga narasumber malam ini mendapat kesempatan menjadi juri di acara festival pendidikan negeri serumpun pada tahun 2021. Serta bulan Agustus lalu, berkesempatan berbagi pada saudara-saudara di Timor Leste https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2023/08/pantun-sebagai-media-pembelajaran-budaya-indonesia-inovasi-pembelajaran-bipa-di-timorleste.
Perlu diingat apakah pantun yang dibuat sudah sesuai dengan Kaidah Pantun? Kalau berbicara soal pantun, pasti ingatan kita langsung tertuju pada saudara kita di pulau Sumatera yaitu suku bangsa Melayu. Namun sebenarnya pantun tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Menurut Suseno (2006) di Tapanuli pantun dikenal dengan nama ende-ende.
Contoh:
Molo mandurung ho dipabu,
Tampul si mardulang-dulang,
Molo malungun ho diahu,
Tatap siru mondang bulan.
Artinya:
Jika tuan mencari paku,
Petiklah daun sidulang-dulang,
Jika tuan rindukan daku,
Pandanglah sang bulan purnama.
Sedangkan di Sunda, pantun dikenal dengan nama paparikan.
Contoh:
Sing getol nginam jajamu,
Ambeh jadi kuat urat,
Sing getol naengan elmu,
Gunana dunya akhirat.
Artinya:
Rajinlah minum jamu,
Agar kuatlah urat,
Rajinlah menuntut ilmu,
Berguna bagi dunia akhirat.
Pada masyarakat Jawa, pantun dikenal dengan sebutan parikan.
Contoh:
Kabeh-kabeh gelung konde,
Kang endi kang gelung Jawa,
Kabeh-kabeh ana kang duwe,
Kang endi sing durung ana.
Artinya:
Semua bergelung konde,
Manakah yang gelung Jawa,
Semua telah ada yang punya,
Mana yang belum dipunya.
Pantun seringkali kita dengar saat pidato atau sambutan. Namun yang membuat khawatir adalah pantun digunakan untuk mengolok-olok orang lain, seperti yang sering kita saksikan di acara televisi. Kita patut berbangga karena pantun telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda secara nasional pada tahun 2014. Menyusul pada tanggal 17 Desember 2020 pantun ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada sesi ke 15 intergovernmental comittee for the safeguarding of the intangible cultural heritage.
Pantun menurut Renward Branstetter (Suseno, 2006; Setyadiharja, 2018; Setyadiharja, 2020) berasal dari kata “Pan” yang merujuk pada sifat sopan. Dan kata “Tun” yang merujuk pada sifat santun. Kata “Tun” dapat diartikan juga sebagai pepatah dan peribahasa (Hussain, 2019).
Pantun berasal dari akar kata “TUN” yang bermakna “baris” atau “deret”. Asal kata Pantun dalam masyarakat Melayu-Minangkabau diartikan sebagai “Panutun”, oleh masyarakat Riau disebut dengan “Tunjuk Ajar” yang berkaitan dengan etika (Mu’jizah, 2019).
Pantun termasuk puisi lama yang terdiri dari empat baris atau rangkap, dua baris pertama disebut dengan pembayang atau sampiran, dan dua baris kedua disebut dengan maksud atau isi (Yunos, 1966; Bakar 2020).
Lalu, sebenarnya apa saja fungsi pantun dalam kehidupan sehari-hari? Digunakan dalam komunikasi sehari-hari, sambutan dalam pidato, menyatakan perasaan, lirik lagu, perkenalan, atau berceramah/dakwah. Pidato tak lengkap rasanya kalau tidak ada pantun di bagian pembuka atau penutup. Selain yang telah dijelaskan di atas, fungsi lain dari pantun antara lain :
1. Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar.
2. Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat.
3. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain-main dengan kata.
4. Namun demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.
Contoh pantun
Memotong rebung pokok kuini,
Menanam talas akar seruntun,
Mari bergabung di malam ini,
Dalam kelas menulis pantun.
Pantun di atas terdiri atas empat baris.
- Baris pertama terdiri atas empat kata, baris kedua terdiri atas empat kata, baris ketiga terdiri atas empat kata, baris keempat terdiri atas empat kata.
- Baris pertama terdiri atas sepuluh suku kata, baris kedua terdiri atas sepuluh suku kata, baris ketiga terdiri atas sepuluh suku kata, baris keempat terdiri atas sepuluh suku kata.
- Baris pertama berakhiran kata ni, Baris kedua berakhiran kata tun, Baris ketiga berakhiran kata ni, Baris keempat berakhiran kata tun. Itu artinya sajaknya a b a b
Apa bedanya pantun dengan syair dan gurindam?
Contoh syair:
Ke sekolah janganlah malas,
Belajar rajin di dalam kelas,
Jaga sikap janganlah culas,
Agar hati tak jadi keras.
Contoh gurindam:
Jika selalu berdoa berdzikir,
Ringan melangkah jernih berpikir.
Jika rajin zakat sedekah,
Allah akan tambahkan berkah.
Cara mudah menulis pantun, antara lain :
1. Memahami karakteristik/ciri-ciri pantun
- Satu bait terdiri atas empat baris
- Satu baris terdiri atas empat sampai lima kata
- Satu baris terdiri atas delapan sampai dua belas suku kata
- Bersajak a-b-a-b
- Baris pertama dan kedua disebut sampiran atau pembayang
- Baris ketiga dan keempat disebut isi atau maksud
2. Menguasai perbendaharaan kata
Contoh:
a. Tahu, baju, perahu, suhu.
b. Baik, naik, Daik, asyik.
c. Cinta, pelita, kata, jelita, kota.
d. Datang, petang, batang, kentang.
e. Suka, cempaka, cuka, Malaka.
Bisa mencari kata di kuncitts.com
3. Menulis isi pantun
Usahakan membuat isinya terlebih dahulu. Baris ketiga dan keempat.
4. Menulis sampiran
Setelah isi sudah selesai dibuat, barulah membuat sampirannya.


1 comments:
Keren, resume yang lengkap
Post a Comment