Pertemuan ke-6
Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) 30 PGRI
Jum'at, 27 Oktober 2023
Jum'at, 27 Oktober 2023. Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) ke-30 memasuki pertemuan ke-6. Tema kelas malam ini yaitu MENGATASI WRITER'S BLOCK bersama narasumber Ditta Widya Utami, S.Pd., Gr.
"Teruslah memberi arti bagi setiap orang yang kita temui,
dalam setiap hal yang kita lalui dan untuk setiap waktu yang kita miliki."
MATERI
WB atau writer's block mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. Meski mungkin ada yang baru mengenal istilah WB, ada kemungkinan kita semua pernah mengalami WB. WB ini sebetulnya istilah yang sudah lama muncul. Diperkenalkan pertama kali oleh psikoanalisis Amerika, Edmun Bergler pada tahun 1940-an. Wikipedia mengartikan WB sebagai keadaan saat penulis kehilangan kemampuan dalam menulis atau tidak menemukan gagasan baru untuk tulisannya. Berikut ciri lain bahwa kita terserang WB: sulit fokus, tidak ada inspirasi menulis, menulis lebih lambat dari biasanya, atau merasa stres dan frustasi saat menulis. Tapi tak perlu khawatir Ibu Bapak, karena sebetulnya wajar bila seorang penulis terserang WB. WB ini bisa menyerang siapa pun. Baik penulis pemula bahkan profesional. Cerpenis, Novelis, Script writer, jurnalis dan berbagai macam profesi menulis lainnya punya kemungkinan terserang WB. Yang membedakan adalah seberapa cepat kita menangani WB ini karena WB bisa hinggap dalam hitungan menit, jam, hari, minggu, bahkan berbulan bulan. Tentu terkena WB dalam waktu yang lama tidak kita harapkan. Karena ujungnya bisa mematikan kreativitas dan produktivitas kita dalam menulis. WB itu ibarat penyakit yang akan mudah diobati bila kita tahu penyebabnya.
Penting bagi seorang penulis untuk mengenali dirinya sendiri. Karena dengan bagitu, akan jauh lebih mudah mengenali penyebab WB yang sangat beragam. Dari berbagai artikel yang saya baca, secara umum WB bisa disebabkan oleh beberapa hal berikut:
1. Mencoba topik/tema baru
Bayangkan selama ini Ibu dan Bapak sering menulis jurnal ilmiah. Lalu suatu ketika diminta untuk menulis novel remaja, meski masih mungkin dibuat novel yang sci-fi, tapi mungkin akan butuh waktu lebih banyak untuk menyesuaikan. Sedikit terkena WB, Kalau bisa mengatasinya, novel bisa tetap rampung. Tapi kalau tidak?
2. Stres dan Lelah Fisik/Mental
Aktivitas harian yang padat, tekanan dari pekerjaan dll terkadang membuat kita (sadar/tidak) mengalami stres. Dalam kondisi tersebut, jangankan menulis, tubuh pun sepertinya sudah menyerah duluan. Kita mungkin sering dengar "Duh gak ada waktu buat nulis. Soalnya lagi sibuk banget!" Padahal tiap orang kan sama sama punya waktu 24 jam setiap hari dalam hidupnya. Nah kalau sudah begini, mengingat para guru kepenulisan kita juga bisa membantu. Misalnya Omjay yang sudah sangat sangat konsisten menulis setiap hari. Bahkan sambil nunggu antrian di bank pun, Omjay masih bisa sempatkan untuk menulis. kata kuncinya adalah "menyempatkan waktu", bukan menyisakan waktu untuk menulis. Jika terlalu penat, biasanya saya suka ambil jeda sejenak. Berganti aktivitas yang bisa menyegarkan pikiran terlebih dahulu baru kemudian melanjutkan menulis.
3. Terlalu Perfeksionis
Tak bisa dipungkiri bahwa kita sebagai manusia selalu ingin melakukan yang terbaik. Begitu pula saat menulis. Ingin sempurna. Ingin bagus dulu. Baru kemudian dibagikan. Jika masih takut salah, merasa belum bagus, gak mau dikomentarin sama orang lain, dipendem deh tuh tulisan. Ingin menghasilkan tulisan yang berkualitas itu sangat penting bagi penulis. Teman saya malah berkata bahwa saat menulis ya harus based on data. Pastikan yang kita sampaikan itu benar. Tapi kembali lagi ke fitrah manusia, bahwa melakukan kesalahan itu adalah hal yang wajar. Artinya bahkan penulis profesional atau yang sudah memiliki jam terbang tinggi dalam kepenulisan pun bisa jadi masih melakukan kesalahan ketika menulis. Contoh paling sederhana yang mudah kita lihat adalah buku revisi. Adanya buku edisi revisi itu kan sebetulnya menunjukkan adanya proses "perbaikan" dari versi sebelumnya. Bisa jadi ada informasi yang ditambah. Bisa jadi ada yang dikoreksi, dsb. Nah, jadi ayok teruslah berkarya. Tulisan yang baik itu ya yang selesai.
Dan tulisan jelek masih lebih baik daripada tulisan yang tidak selesai. Selama kita konsisten menulis, dengan sendirinya kita akan berlatih memperbaiki setiap tulisan kita dari waktu ke waktu. Di tahap awal belajar menulis atau ketika kita terserang WB, kita bisa coba menulis dengan teknik free writing. Menulis bebas atau free writing ini adalah teknik menulis dimana kita mengesampingkan terlebih dahulu tentang salah ejaan, salah ketik, koherensi dan sebagainya. Karena menulis itu "kata kerja", maka tak ada cara lain yang lebih baik selain praktik menulis itu sendiri. Jika sekedar belajar tata cara menulis tapi jarang dipraktikkan, ya akan kurang optimal hasilnya. Kecuali pada mereka yang telah dianugerahi bakat menulis.
DISKUSI
1. Kalo terkena WB, healing setitik. Baca buku yang ringan dan menghibur, kuliner atau sekedar jalan keluar rumah dan main sama anak juga bisa cukup me- recharge. Setelah itu, saya biasanya baca lagi kerangka tulisan. Membuat kerangka tulisan bisa sangat membantu untuk mengatasi WB dan memastikan tulisan kita selesai. Curhat lewat tulisan juga termasuk salah satu cara mengatasi WB mbak. Dalam istilah psikologi namanya menulis ekspresif. Tekniknya kita tuangkan semua emosi kita dalam bentuk tulisan. Bahkan yang bersifat traumatis sekali pun.
2. Ketika banyak hal harus dilaksanakan di waktu bersamaan atau berdekatan, saya biasanya membuat skala prioritas. Nah jadi skala prioritas ini misalnya mana yang a) penting dan mendesak, b) penting tapi tidak mendesak, c) mendesak tapi tidak penting, dan d) tidak penting juga tidak mendesak.
3. Sebelum mulai menulis, saya buat dulu kerangkanya. Minimal judul dan subjudul. Jadi, kalau pun di tengah jalan saya kena WB, kita masih bisa membaca ulang kerangka tulisan. Jika perlu mencari referensi tambahan sekedar untuk mendapat pencerahan. apalagi sekarang sudah ramai penggunaan ChatGPT.
4. Ketika muncul ide, segera tangkap dengan mencatatnya. Jangan biarkan kabur. Mungkin kita belum bisa menyelesaikan ide-ide itu dalam waktu dekat. Tapi jika sudah kita tulis apalagi lengkap dengan kerangka tulisannya, next time akan mudah bagi kita untuk menulis ketika stok ide kita sedang kosong.
5. Deadline tulisan sebetulnya bisa membantu kita menghentikan WB. Karena mau tak mau kita akan kerahkan segala daya upaya supaya tulisan selesai sebelum waktunya. Kalau tulisan yang tak ditarget, biasanya bawaannya juga jadi santai.
6. Pentingnya "menghilangkan distraksi". Sebelum menulis, sangat penting untuk membuat "suasana yang nyaman dan jauh dari segala macam gangguan". Misal jika Ibu Bapak senang membaca artikel online di HP, nah maka saat ingin fokus menulis sebaiknya tidak menaruh HP di meja yang dipakai untuk menulis. Menghilangkan distraksi bisa meningkatkan produktivitas menulis.
7. Kita bisa belajar dari Dee lestari. Sebelum menulis, salah satu waktu yang dihabiskan paling banyak oleh Dee Lestari adalah saat membuat outline. Bahkan outline nya ditulis di karton yang dihamparkan di meja. Outline atau peta pikiran idenya lengkap. Baru kemudian menulis.
8. Sudah buat kerangka tulisan, cara untuk mengembangkan kerangka tersebut menjadi tulisan lengkap dengan gunakan 5W1H. Atau buat ide ide pokok setiap paragraf nya dulu. Atau yang sekarang sedang populer gunakan teknik STAR (situasi, tantangan, aksi, refleksi) - kalau jenis tulisan sesuai.
Yakinlah bahwa setiap tulisan akan bertemu dengan pembacanya
Terkadang apa yang kita anggap kecil, remeh dan sederhana bisa jadi sangat berarti bagi orang lain
.jpeg)
0 comments:
Post a Comment