WRITING BY HEART

Sunday, December 24, 2023

 Pertemuan ke-17
Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) 30 PGRI
Rabu, 22 November 2023


Rabu, 22 November 2023. Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) ke-30 memasuki pertemuan ke-17. Tema kelas malam ini yaitu WRITING BY HEART bersama narasumber Mutmainah, M.Pd. melalui daring via WA Group KBMN pukul 19.00 WIB.


Apa itu Writing by Heart? 

Sejatinya menulis adalah ketrampilan tertinggi setelah membaca dan berbicara. 
Menulis dengan hati artinya jadikan hati sebagai inspirasi saat menulis. 
Jadikan hati sebagai sumber untuk mengolah ide dan inspirasi yang disampaikan melalui tulisan. 
Otak dan pikiran hanyalah alat dari proses menulis yang bersumber dari hati tersebut.
Tulisan adalah jiwa, setiap yang berjiwa pasti bisa menulis, tulisan dengan hati akan sampai ke hati.


1. Libatkan emosi. 

Emosi yang dimaksud disini adalah emosi yg positif. Tulis apa saja yang kita rasakan, kita amati, dan kita dengarkan. Tulis semuanya apa adanya, tanpa perlu diedit terlebih dahulu. Jika kita menulis sambil mengedit tulisan kita tidak akan  jadi. 

Saat menulis libatkan emosi kita. Beri warna dan rasa pada tulisan kita. Saat kita menuliskan tentang kesedihan gambarkan kesedihan itu. Bagaimana rasanya sedih, tulis saja seperti kita sedang berbicara curhat pada  sahabat kita jika sedang sedih. Saat kita sedang marah sampaikan rasa amarah itu dalam kata kata. Sehingga seolah pembaca merasakan aura kemarahan kita.

Mengapa suasana dan emosi dirasa perlu untuk diolah lalu dituangkan ke dalam tulisan? Karena saat kita menulis dengan memainkan suasana dan emosi, maka tulisan yang dibuat pun akan memiliki rasa sehingga pembaca pun akan menikmati tulisan yang dibuat.

Namun jangan salah menempatkan emosi, apabila kita sedang dalam keadaan marah atau sedih jangan memaksa untuk menulis tulisan yang menyenangkan karena mood nya tidak sesuai dengan ide yang akan dituliskan.

Dalam menulis, jangan ragu untuk menuangkan semua ide yang kita miliki. Anggap saja sama seperti menulis diary namun dengan berbagai bentuk tulisan. Saat sudah terbiasa, menulis pun akan menjadi kegiatan yang menyenangkan dan bahkan membuat candu kepada orang yang melakukannya

2. Libatkan panca indera

Tiga sahabat itu meringkuk ketakutan. Di tengah samudra biru, mereka terombang-ambing diatas kapal yang sudah lubang sana sini. Tangan mereka terikat jaring dengan kuat, sementara mulut kelu dalam gigil kedinginan. Dari kejauhan sesosok makhluk yang besar semakin mendekati mereka. 

Makhluk itu sangat besar, tingginya melebihi pohon kelapa. Badannya sebesar gedung tingkat delapan. Surainya mencuat tinggi berwarna keperakan disinari matahari. Entah makhluk apa yang mereka lihat. Matanya yang merah menampakkan amarah. Makhluk itu menghantamkan ekornya dengan kuat.  Byuuuurrrr, seketika air laut bergejolak setinggi 30 meter. Baju mereka basah kuyup, rasa dingin bukan masalah terbesar mereka. Tapi tatapan marah ikan itu. Ikan itu semakin mendekati mereka. Satu ayunan sirip lagi, akan tiba dihadapan mereka.

Ooh bagaimana nasib ketiga sahabat itu selanjutnya?

Naah bagaimana saat bpk/ibu membaca paragraf ini? 
Tentu kita juga merasakan dingin, dan ketakutan seperti ketiga sahabat itu bukan. 
Jadikan tulisan kita memiliki rasa takut, senang, melalui melihat, mendengar, membau. Libatkan semua panca indera.

3. Tulis sesuatu yang kita sukai

Bapak ibu pasti pernah merasa jatuh cinta kan? Bagaimana kita menggambarkan orang yang kita sukai. Hemmm pasti paket lengkap untuk mendeskripsikannya. Mulai wajahnya  penampilannya, sikapnya. Bahkan senyumnya pun kita bisa melukiskannya dengan jelas. Kenapa bisa seperti itu? Kuncinya karena SUKA.

Jangan menulis sesuatu yang tidak kita sukai. Ibaratnya jika Anda tidak menyukai minum kopi, jangan memaksa minum kopi. Pasti tidak akan menggambarksn kopi itu secara obyektif bukan? 

Intinya tulis sesuatu yang kita sukai. Jangan menulis karena terpaksa. Ingat tulisan yang ditulis dengan terpaksa hanya akan berupa rangkaian huruf tanpa nyawa. Kosong, bisu dan tak membekas di hati pembaca.

Menulis adalah soal perasaan. Tidak cukup hanya pengetahuan, seorang penulis harus memiliki pemahaman. 

Pemahaman dimulai dari memahami diri sendiri baru memahami orang lain. 

Penulis yang punya rasa akan menjadi sensitif dan mampu menangkap banyak hal. Efek ke tulisan, tulisannya akan menjadi lebih dalam dan dapat dimaknai oleh pembaca karena menyentuh pembaca. Dengan melibatkan rasa, penulis akan merasakan pengalaman keterlibatan sesuatu yang menggelegak dari dalam dirinya dan hal itu kemudian akan ditangkap oleh pembacanya. Merasa nggak?

Menulis adalah seni. Seni adalah keindahan. Seni adalah kreativitas. Seni juga bisa berarti jalan. Dengan seni, penulis memiliki jalan yang otentik di dalam karya-karyanya yang sulit ditiru oleh orang lain. Jadi hal ini adalah sebuah ciri khas mendalam dari penulis.

4. Jangan Mengharap Pujian

Niatkan dalam hati yang pertama kata2 berikut ini. UNTUK APA KITA MENULIS? Jika kita menulis hanya karena pujian, orientasi kita bukan pada segi manfaat tulisan kita. Tapi semata mata karena ingin dipuji. Dan saat tulisan kita sepi dari pujian maka kita akan badmood bahkan malas untuk menulis. 

Berbeda dengan jika menulis semata2 karena ibadah ingin menebarkan sesuatu yg menghibur, yg bermanfaat. Dipuji atau tanpa dipuji kita akan terus melaju dengan tulisan kita.

5. Who dan do 

Who artinya kenali siapa yang akan membaca tulisan kita. Jika kita ingin tulisan kita mengena pada remaja maka posisikan diri kita sebagai remaja. Mulai dari gaya bahasa, topik dan hal- hal yang lagi digandrungi remaja. Jadikan diri bpk/ibu sebagai pembaca. 

Do artinya pesan apa yang ingin kita sampaikan pada pembaca. Dengan harapan pembaca akan melakukan apa yang kita tulis dan kita harapkan sesuai tujuan tulisan kita.

6. READ AND READ

Seorang penulis hendaknya suka membaca. Ibarat kendaraan maka membaca adalah bahan bakar seorang penulis. Dengan membaca kita akan kaya akan ide, bahasa dan bahasan menulis.

Dikutip dari Rencanamu.id (24/09/18), hasil dari penelitian Stephen D. Krashen dalam bukunya yang berjudul Writing: Research, Theory, and Application, bahwa ada hubungan antara kegiatan membaca dan menulis. Responden yang merupakan para penulis itu ternyata gemar membaca sejak kecil dan mengaku sudah terbiasa menulis sejak masih sekolah.

Jadi, semakin banyak seseorang membaca, wawasan dan pengatahuannya pun akan semakin luas, sehingga memiliki banyak referensi atau ide untuk menulis. Dengan kata lain, tiap kalimat yang dituliskan akan mengalir mudah, karena sudah mempunyai bekal informasi.

7. JUJUR

Mulutmu bisa berbohong tapi tulisanmu tidak. Kata orang apa yang tertulis tak mampu berbohong bahwa tulisan adalah isi hati penulis, saat matamu bisa berbohong maka tulisanmu tidak, artinya tulisan kita adalah gambaran dari kita.

8. Konsisten

Poin yang ke 8 ini sangat mudah dikatakan tapi susah dilakukan. Ibarat berjalan selalu ada karang  yang menghadang angin badai menerpa, meruntuhkan kesadaran. Tapi yakinlah itu semua hanya kerikil tajam sandungan. Kan memperkokoh genggaman tangan dalam satu TUJUAN yakni menjadi penulis. Saat lelah mendera, pikiran buntu, atau writer block menyerang istirahatlah. Tapi setelah itu ayunkan kaki lebih tinggi.


1. Lebih menyentuh pembaca

Tulisan yang dihasilkan dari luapan emosi, akan lebih menggugah pembaca. Sebaiknya tulisan yang datar, akan terasa membosankan.

Saat menulis, Anda tidak hanya memproduksi kata-kata, namun Anda tengah memproduksi rasa. Maka hadirkan perasaan dan emosi positif saat menulis. Instal dalam diri Anda emosi positif sehingga membanjiri diri Anda selama proses menulis. Emosi positif ini akan membimbing untuk terus menerus mengeluarkan kata-kata. Coba rasakan tulisan Anda yang terbimbing oleh emosi positif, pasti sangat berbeda dengan apabila tulisan terbimbing oleh emosi negatif.



2. Cerita Lebih Nyata 

Ketika kita sedang menulis sebuah novel sepenuh jiwa, maka tulisan tersebut akan memiliki nyawa dan seolah-olah bisa dirasakan secara nyata oleh pembaca. Kita pasti pernah kan membaca sebuah buku yang membuat kita merasa masih larut dalam cerita meskipun sudah selesai membacanya? Bisa jadi penulis buku tersebut sangat menjiwai tulisannya.

3. Lebih mudah menyusun cerita

Tentu kita pernah merasakan Writer Block. Tak ada ide menulis.  Jangankan menulis paragraf. Membuat kalimat saja kadang tak terangkai. Maka cobalah menulis dengan hati. Tulis semua yang ada disekeliling kita, rasakan dengan indera kita. Tulis saja, tanpa mengindahkan kaidah penulisan. Tulis seolah kita berbicara. Menulislah dengan berbagi rasa lewat abjad, dan menyentuh hati pembaca lewat tulisan.

Bandingkan dua tulisan ini 
Contoh menulis melibatkan hati dan tidak melibatkan hati

1. Hari ini hujan turun dengan lebat. Budi sang penjual koran duduk kedingian di trotoar dengan menahan rasa lapar. 

2. Awan mendung terlihat menghitam, suara tetesan hujan semakin menderas. Sesekali terdengar cahaya kilat dan suara petir memekakkan telinga. Si budi kecil penjual koran, menggigil dalam beku. Matanya perih menahan tetesan hujan. Mulutnya membiru, seakan membeku. tangan dan kakinya kelu dan lunglai menahan lapar seharian. Tuhan berikan rezeki untuk bisa kumakan hari ini pintanya syahdu memandang awan kelabu.


*Pengemis Kecil*

Di malam yang dingin, seorang pengemis kecil tertidur di trotoar jalan. Ia mengenakan baju lusuh dan penuh lubang. Tubuhnya kurus kering, dan rambutnya kusut. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah kaleng bekas untuk mengumpulkan uang.

Pengemis kecil itu bernama Aji. Ia baru berusia 10 tahun, tetapi sudah harus hidup di jalanan. Ayahnya meninggal dunia, dan ibunya meninggalkannya untuk menikah lagi. Aji tidak punya tempat tinggal, dan ia harus mencari makan sendiri.

Aji sudah menjadi pengemis selama setahun terakhir. Ia sering tidur di trotoar jalan, atau di bawah jembatan. Ia sering kelaparan, dan ia sering sakit. Tetapi, Aji tidak pernah menyerah. Ia selalu berharap ada orang yang akan membantunya.

Malam itu, Aji tertidur dengan tenang. Ia tidak tahu bahwa ada seseorang yang memperhatikannya. Orang itu adalah seorang wanita muda yang sedang berjalan pulang dari kantor.

Wanita itu berhenti di depan Aji. Ia melihat Aji yang tertidur dengan pulas. Hatinya tersentuh melihat Aji yang masih begitu kecil, tetapi sudah harus hidup di jalanan.

Wanita itu mengeluarkan uang dari dompetnya. Ia memasukkan uang itu ke dalam kaleng bekas yang digenggam Aji. Kemudian, ia mengusap rambut Aji dengan lembut.

Aji terbangun karena merasakan sentuhan di rambutnya. Ia melihat wanita muda itu berdiri di depannya. Ia tersenyum malu-malu.

"Terima kasih," kata Aji.

"Sama-sama," kata wanita itu. "Kamu harus hati-hati, ya. Jangan tidur di trotoar jalan. Kamu bisa sakit."

Aji mengangguk. "Aku akan hati-hati," katanya.

Wanita itu tersenyum. Kemudian, ia melanjutkan perjalanannya.

Aji menatap kepergian wanita itu. Ia merasa senang karena ada orang yang peduli padanya. Ia berharap suatu hari nanti, ia bisa hidup seperti anak-anak lain. Ia bisa tinggal di rumah yang nyaman, dan ia bisa bersekolah.

Aji kembali memejamkan matanya. Ia berharap mimpinya akan segera menjadi kenyataan.

DISKUSI
1. 
a. Jika kita sedang menulis sesuatu ttg kebahagiaan sedangkan saat kita menulis berada dalam emosi kesedihan,apakah kita harus jeda sejenak atau membayangkan rasa yg sama dengan apa yg kuta tulis?
b. Kata sebagian orang, penulis yg melibatkan jiwanya jika menemui kesedihan dalam hidupnya maka sembuhnya akan lebih lama dari rata-rata kebanyakan orang.
Apakah Ustadah Emut setuju dg hal ini? Bgmn solusinya agar cepat "sembuh" ?

1a. Rasa sedih, gembira dan haru semua bersumber dari hati. Hanya berbeda warna. Ibaratnya merah gambaran marah, kuning itu gembira, dan biru gambaran rasa sedih. 
Tidak perlu jeda jika ingin menulis. Kita hanya perlu mengubah warna emosi kita. 
Sejenak lupakan warna biru dan merahmu. Bayangkan keceriaan dan kegembiran. 
Disamping itu akan jadi terapi self healing  yang mengobati kesedihan, tulisan kita juga lebih daoat 'feel' nya

1b. Tidak. 
Bahkan penulis memiliki kesempatan sembuh lebih cepat dibandingkan kebanyakan. 
Caranya adalah dengan self healing dalam tulisan. 

2. Berkaitan dengan menulis tidak mengharap pujian. Saya sendiri ketika menulis ingin pembaca menentukan komentar pujian yang akan memberikan pengaruh motivasi diri. Misal bagus artikelnya. Sebagai penulis pemula. Hal ini cukup berarti Bu. Bagaimana apakah itu salah? Dan apa solusinya.

Pujian dimaksud disini adalah pijian yang akan membuat kita terlena. 
Pujian yg akan membuat kita lupa apa visi misi utama kita dalam menulis. 
Sehingga saat sepi pujian, kita akan malas menulis. 

Walaupun tak dapat dipungkiri pujian itu membuat kita lebih termotivasi. 
Jadikan ibadah sebagai motivasi menulis, maka tulisan kita akan kebih bermakna.

3. Untuk menulis, kita harus banyak membacaa, nah kalau bacaam kita yang sedih2 atau berat2 nanti masuk alam pikiran ga yaaa krn pernah dengar dan baca, kita harus jaga apa yang kita lihat, baca dan dengar.

Bacaan yang bermutu tidak hanya melulu bernuansa sedih. Bacaan bermutu adalah bacaan yang setelah kita membacanya kita akan mengalami perubahan yang lebih baik. Misalnya lebih meningkat motivasi untuk berusaha, beribadah atau bekerja. Atau bacaan yang setelah kita membacanya pikiran kita jadi lebih fresh dan terhibur. Bahkan menghadirkan rasa lega, bahagia dan damai. Jadi pilih bacaan yang bermutu. Walaupun sebenarnya bacaan sedih itu tidak ada salahnya. Karena akan lebih mengolah rasa dan emosi kita. begitu buu.

4. 
a. Apa yang dimaksud clue?
b. Saat akan menulis selalu bingung membuat judul. Bagaimana caranya?

Yang dimaksud clue di sini adalah poin penting dari sebuah topik bahasan, bisa juga berarti petunjuk dan penanda. Jika saat akan menulis selalu bingung membuat judul, maka keluarlah dari zona nyaman Anda. Berjalan-jalan mengamati lingkungan sekitar, mengganti rutinitas dengan hal yang baru atau bisa mengamati aktivitas orang orang di sekeliling kita. Biasanya nonton film bisa cepat memunculkan ide ide baru.

5. 
a. Bagaimana kiat kiatnya agar konsisten di dalam menulis ??
b. Agar tulisan kita disukai oleh orang lain , kira kira tulisan kita harus di tambah bumbu apa ya?

a. Kiat untuk menulis antara lain :Biasakan Membaca Setiap Hari. ...
☝️Biasakan Menulis Setiap Hari. ...
☝️Jangan Terlalu Perfeksionis. ...
☝️Tulis Ide Jika Tiba Tiba Muncul di Kepala. ...
☝️Mencari Ide dari Kegiatan atau Kejadian Lain, Selain Membaca. ...
☝️Menulis dengan Hati.

b. Tulis sesuatu yang kekinian dan menjadi trend saat ini. Sehingga tulisan kita lebih fresh dan banyak dicari pembaca, yang kedua tambahkan rasa yang akan membuat tulisan kita lebih bermakna. Yang ke 3 jangan terlalu mengada-ngada. Tulisan yang jujur dan apa adanya lebih menarik hati pembaca.

6. Saya seorg guru matematika. Memulis puisi asal kena. Penguasaan diksi di bawah lima. Mohon arahan agar puisi saya jadi lebih puitis dan bermakna.

Cara menulis puisi
1. Menentukan Tema
Sebelum menulis bait puisi, tentukan dahulu tema puisi yang ingin dibuat. Tujuannya agar saat kita menulis puisi mengerti akan membuat kata-kata seperti apa. 

2. Diksi
Diksi merupakan kata dalam tulisan yang digunakan untuk memberi makna sesuai dengan keinginan penulis. Dengan menggunakan diksi, puisi akan terlihat lebih puitis dan bermakna

3. Menggunakan Majas
Puisi akan kurang jika si penulis tidak menggunakan majas. Dalam menulis puisi, seseorang dituntut untuk menggunakan gaya bahasa yang bebas. 

4. Kembangkan Bait

0 comments:

Post a Comment