DIKSI & SENI BAHASA

Saturday, December 2, 2023

Pertemuan ke-7
Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) 30 PGRI
Senin, 30 Oktober 2023  


Senin, 30 Oktober 2023. Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) ke-30 memasuki pertemuan ke-7. Tema kelas malam ini yaitu DIKSI & SENI BAHASA bersama narasumber Maydearly.

Narasumber kita malam ini berasal dari provinsi Banten. Tepatnya Kabupaten Lebak. Sebuah kota kecil yang kaya akan budaya. Terkenal dengan motto Lebak Unique karena mendiami tempat yang benar-benar unik. Mendapat gelar The Queen of diction karena keahliannya menulis diksi-diksi indah dalam puisi. Beliau seorang Guru, Bloger, motivator dan juga novelis. Salah satu karyanya yang booming dan dibeli oleh orang nomor satu kabupaten Lebak adalah buku Januari Dalam Kenangan, sebuah buku yang menghimpun kisah korban bencana alam di Kabupaten Lebak yang terjadi pada tanggal  1 Januari 2020 silam. Kisah dalam buku ini begitu mengharu biru, mencabik hati siapa pun yang membacanya. Buku yang dikemas dengan bahasa penuh diksi namun mudah difahami. Dua buku terbarunya Dua Irama dalam Larik Puisi dan Merapal Jejak Bu Kanjeng juga telah mengembara sampe ke ujung Sumatera.


Di bibir senja izinkan meminjam waktu untuk bersiul sambut lewat satu linimasa. Dengan gerak jari menukik lembut saling berpaut, meluncur lewat emoji sarangheo. Ditemani dengan secangkir kopi yang mempertemukan kita di satu meja virtual. Sebuah tempat dimana sang emoticon☺️☺️menjadi persembahan sebagai tanda perkenalan Bu Maydearly. We are in one screen berlari dari bangku cemas menggedor ribuan ilmu sebagai resep yang menyempurnakan koefisien aksara agar serupa mawar di tengah gulma. Diksi sebagai Seni Bahasa semoga menjadi cemilan menawan di pembuka malam yang elegan.

Mengapa Diksi begitu penting dalam kajian sebuah bahasa? Sebab banyak keindahan  dari sebuah kata menjadi  prosa yang melampaui bayu di udara. Diksi bak irama tanpa aroma, menjadi senyawa indah mempesona melengkapi rumpun kata dengan sejuta makna. Diksi – akar katanya dari bahasa Latin: dictionem. Kemudian diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi diction Kata kerja ini berarti: pilihan kata. Maksudnya, pilihan kata untuk menuliskan sesuatu secara ekspresif. Sehingga tulisan tersebut memiliki ruh dan karakter kuat, mampu menggetarkan atau mempermainkan pembacanya.

Dalam sejarah bahasa, Aristoteles – filsuf dan ilmuwan Yunani inilah yang memperkenalkan diksi sebagai sarana menulis indah dan berbobot. Gagasannya itu ia sebut diksi puitis yang ia tulis dalam Poetics – salah satu karyanya. Seseorang akan mampu menulis indah, khususnya puisi, harus memiliki kekayaan yang melimpah: diksi puitis. Gagasan Aristoteles dikembangkan fungsinya, bahwa diksi tidak hanya diperlukan bagi penyair menulis puisi, tapi juga bagi para sastrawan yang menulis prosa dengan berbagai genre-nya.

William Shakespeare dikenal sebagai sastrawan yang sangat piawai dalam menyajikan diksi melalui naskah drama. Ia menjadi mahaguru bagi siapa saja yang berminat menuliskan romantisme dipadu tragedi. Diksi Shakespeare relevan untuk menulis karya yang bersifat realita maupun metafora. Gaya penyajiannya sangat komunikatif, tak lekang digilas zaman.

Seorang penulis akan mampu berdiksi ababila ia mampu menerapkan 5 hal di berikut ini:

1. Sense of Touch adalah menulis dengan melibatkan indera peraba. indra peraba dapat digunakan untuk memperinci dengan apik tekstur permukaan benda, atau apapun. Penggunaan indra peraba ini sangat cocok untuk menggambarkan detail suatu permukaan, gesekan, tentang apa yg kita rasakan pada kulit. Aplikasi indra peraba ini juga sangat tepat digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak terlihat, seperti angin misalnya. Atau, cocok juga diterapkan untuk sesuatu yang kita rasakan dengan menyentuhnya, atau tidak dengan menyentuhnya.
Contoh:
Pada pori-pori angin yang dingin, aku pernah mengeja rindu yang datang tanpa permisi

2. Sense of Smell adalah menulis dengan melibatkan indra penciuman hal ini akan membuat tulisan kita lebih beraroma. Tehnik ini akan lebih dahsyat jika dipadukan dengan indra penglihatan.
Contoh:
Di kepalaku wajahmu masih menjadi prasasti, dan aroma badanmu selalu kugantungkan dilangit harapan

3. Sense of Taste adalah menulis dengan melibatkan indra perasa. Merasakan setiap energi yang ada di sekitar kita. Penggunaan indra perasa sangat ampuh untuk menggambarkan rasa suatu makanan, atau sesuatu yg tercecap di lidah.
Contoh:
Kukecup rasa pekat secangkir kopi di tangan kananku, sembari kugenggam Hp  di tangan  kiriku. Telah terkubur dengan bijaksana, dirimu beserta centang biru, diriku bersama centang satu.

4. Sense of Sight adalah menulis dengan melibatkan indra penglihatan memiliki Prinsip “show, don’t tell". Selalu ingat, dalam menulis, cobalah menunjukkan kepada pembaca (dan tidak sekadar menceritakan semata). Buatlah pembaca seolah-olah bisa “melihat” apa yang tengah kita ceritakan. Buat mereka seolah bisa menonton dan membayangkannya.  Prinsip utama dan manjur dalam hal ini adalah DETAIL. Tulislah apa warnanya, bagaimana bentuknya, ukurannya, umurnya, kondisinya.
Contoh:
Derit daun pintu mencekik udara di tengah keheningan, membuatku tersadar jika kamu adalah prasasti yang pernah kutinggali

5. Sense of hearing adalah menulis dengan melibatkan energi yang kita dengar. Begitu banyak suara di sekitar kita. Belajarlah untuk menangkapnya. Bagaimana? Dengarlah, lalu tuliskan. Mungkin, inilah sebab mengapa banyak penulis sukses yang kadang menanti hening untuk menulis. Bisa jadi mereka ingin menyimak suara-suara. Sebuah tulisan yang ditulis dengan indra pendengaran akan terasa lebih berbunyi, lebih bersuara. Selain itu, penulis juga bisa berkreasi dengan membuat hal-hal yang biasanya tak terdengar menjadi terdengar. 
Contoh:
Aku padamu seperti angin yang berlalu begitu saja, kini yang kupunya hanya melupa atas lara dari sajak jingga yang cedera

Hanya 5 hal yang kita butuhkan dalam memadu Diksi. 5 hal sederhana, yang membantu tuas huruf mengalir menuju samudra kata yang mempesona. Menulis dengan melibatkan ke 5 panca indera juga mampu memantik karya tertuang lebih natural. Karena kita menulis dari apa yang dilihat, dirasa, diraba, didengar. 5 juru kunci sudah meluncur dalam pandangan screen kelas ini, tinggal diramu, digeledahi dan diciptakan dalam sebuah karya. Terkadang, ada hal lain yang membuat kita stuck dalam menulis. Dicoba, dinikmati, diresapi karena menulis adalah melahirkan isyarat ruh kepada pembaca.

DISKUSI
1. Bagaimana menggunakan diksi sastra untuk menciptakan suasana atau mood tertentu dalam cerita atau puisi ?

Cara menuangkan diksi dalam cerita atau puisi tentu kita bisa memulai dengan menentukan latar.
Contoh dalam cerpen, bisa kita mulai dengan menganalogikan waktu. Misal, pagi, siang, malam. Di pagi hari kita menemukan mentari. Kata mentari bisa kita rangkai dengan cuplikan fajar.

Sang Fajar berlari di pucuk pagi

Dalam puisi kita bisa menentukan ide cerita dari yang akan kita sampaikan.

Misal ketika kita ingin menyampaikan pesan kepada benda, atau orang kita analogikan memalui bentuk fisik. Disini masuk pada kategori sense of sight.
Contoh:
Kau lebih manis dari sekedar adukan gula dalam secangkir kopi, akan kunobatkan hati ini sebagai kenangan yang pernah kau jelajahi

2. Bagaimana mempersonifikasikan bahasa yang tepat pada maksud yang akan ditulis, agar tidak monoton dan pembaca betul2 memahami arti sebenarnya?

Cara memepersonifikasikan bahasa yang tepat adalah dengan memilah padanan kata yang baik. Tentu kita perlu sering membaca atau mencari referensi padanan kata yang pas agar tulisan kita kaya Diksi. Ketika tulisan sudah kaya Diksi maka tulisan kita tidak akan terlihat monoton.

Munculkan padanan kata yang asing di dengar. Sementara ini banyak penulis yang masih sulit memilah padanan kata. 

Sebut saja kata membaca nampak biasa saja, tetapi akan indah jika kata membaca diganti dengan kata merapal terdengar asing dan memikat pembaca untuk mencari tau artinya. Di Google banyak glosarium sinonim yang bisa kita gunakan.

3. Apakah diksi ini berlaku untuk setiap tulisan, opini, cerpen, buku fiksi atau pun non fiksi atau menulis buku bebas? Apa peran diksi selain buku antologi atau pun puisi?

Sebenarnya Diksi itu memuat segala bentuk tulisan. Hanya saja sang Diksi akan lahir dalam berbagai genre. Dalam karya ilmiah tentu kita membutuhkan Diksi yang mumpuni agar suatu karya Ilmiah terbaca dengan baik.

Contoh kecil ketika kata meneliti diganti dengan menganalisis atau mengidentifikasi ini sudah termasuk berdiksi.

Nah, disini bahasan saya adalah pengembangan Diksi jenis fiksi yang biasa digunakan dalam cerpen dan Novel.

4.  Bagaimana trik simpel namun terbaik agar tetap dapat menjaga diksi kita dalam menulis?

Cara mempelajari Diksi, pertama adalah sering membaca novel/cerpen. Disini meng upgrade pengetahuan saya terhadap kata² asing yang sebelumnya saya tak fahami.

Kedua adalah menarikan jari di google dengan mencari glosarium padanan kata. 

Trik simple nya adalah mencoba memulai dengan memadu padankan setiap kata dengan kata pengganti/sinonim.

Dan intinya Dicoba dulu because practice makes perfect,

5.  Bagaimana caranya agar puisi yang kita ciptakan itu menjadi lebih hidup dan menarik ketika dibacakan oleh orang lain? 

Pertama menulis puisi adalah menyampaikan pesan. Satu hal yang perlu kita ketahui bahwa menulis membutuhkan Ruh dan Ruh itu akan didapat jika tulisan itu dijiwai. Makanya kita perlu menulis dengan hati.

6. Bagaimanakah agar kita lebih percaya diri dalam menulis puisi? Kadang sering merasa bahwa karya saya itu kurang menarik.

Agar PD dalam menulis puisi yaitu dengan menciptakan kata2 unik dalam setiap bait puisi. Sederhana tapi padat makna, tentu tidak akan membuat pembaca bosan.

7. Apa pentingnya penerapan diksi dalam menulis, dan bagaimana penulis dapat meningkatkan kemampuannya dalam menggunakan diksi yang memukau dalam tulisan yang dihasilkannya?

Penerapan Diksi amat penting karena Diksi tidak hanya lahir dalam karya genre Sastra. Diksi juga perlu hadir dalam karya ilmiah agar tulisan tidak semrawut dan memiliki alur penceritaan yang baik serta sopan. Tidak mungkin kata 'elu dan gue' ada dalam karya ilmiah bukan?

Cara penulis mengingkatkan kemampuan berdiksi adalah dengan banyak membaca karya sastra baik teks book or by google.

8. Apakah perlu di setiap tulisan kita disisipkan diksi? Bagaimana jika orang yang membaca justru bingung dan tidak mengerti diksi yang kita pakai? Jadi pesan yang ingin kita sampaikan pada pembaca jadi ga nyampai.

Pertama jenis tulisan apa yang ingin ibu buat. Tadi saya sudah mengulas Diksi means Padanan Kata seyogyanya, penulis yang baik adalah yang bisa memoles Diksi dalam setiap tulisan apapun jenisnya. Karena Diksi juga terlahir dalam berbagai Genre.

Pembaca tidak akan kebingungan selama Diksi/padanan kata yang kita tulis itu sepadan. Makanya perlu banyak membaca dan berlatih.

9. Buku apa sajakah yang harus dibaca oleh saya atau kami untuk dapat mengasah kemampuan diksi? Buku apa saja yang Bu Maydarly baca? Adakah tokoh-tokoh diksi yang menginspirasi dan siapa saja?

Karya2 Bunda Asma Nadia yang suka saya baca, beserta karya Bunda Helvi Tiana Rosa yang Diksinya Aduhai. Kedua kakak beradik ini adalah inspirasi dalam menulis. 

Kemudian, juga sering berselancar di google. Ada domain jago kata.com. Disitu terlahir sekumpulan quotes para penulis terkenal yang karya sastranya mengembara dan kaya Diksi.

10. Apa dalam membuat puisi rima itu harus atau bebas saja?

Adapun Rima, sekarang zaman milenial ini banyak penulis puisi yang tak lagi terpaut Rima dalam karya puisinya. Selama pesan itu sampai, maka itu adalah puisi. 

Dan zaman sekarang puisi itu sudah lahir dengan berbagai bentuk termasuk Jenis puisi Prosais.

KALIMAT PENUTUP
Penulis Sejati adalah
Ia yang tak pernah putus asa
Ia yang tak pernah menyerah
Ia adalah seseorang yang selalu tersenyum dalam kesedihan
Dan Ia yang selalu menciptakan ide-ide baru 🥰🥰
Jadilah Penulis Sejati yang karyanya dikenang sampai mati

0 comments:

Post a Comment