Mengendalikan Interpretasi dan Persepsi

Tuesday, December 24, 2024

Marcus Aurelius dalam Meditations menulis:


"Jika kamu bersusah hati karena hal eksternal, perasaan susah itu tidak datang dari hal tersebut, tetapi oleh pikiran/persepsimu sendiri. Dan, kamu memiliki kekuatan untuk mengubah pikiran dan persepsimu kapan pun juga."


Kebahagiaan sejati datang dari hal-hal yang bisa dikendalikan, yaitu pikiran, persepsi, dan pertimbangan kita sendiri. Kita bisa aktif menentukan respons kita terhadap peristiwa-peristiwa di dalam hidup kita. Stoisisme menantang konsep mengenai emosi vs rasional. Seolah-olah jika nalar menang dari emosi, maka kita menjadi manusia yang tenang dan terkendali. Sebaliknya, saat gantian emosi menang dari nalar, maka kita melakukan hal-hal destruktif. Stoisisme menjelaskan bahwa pada dasarnya semua emosi dipicu oleh penilaian, opini, persepsi kita. Keduanya saling terkait, dan jika ada emosi negatif, sumbernya ya nalar/rasio kita sendiri.  


"Jangan katakan pada dirimu sendiri lebih dari impresi awal yang kamu dapatkan. Kamu mendengar bahwa seorang berkata yang jelek tentang kamu. Ya, hanya ini kabarnya. Kabarnya tidak berkata bahwa kamu sudah dilukai....... Karenanya, tetaplah fokus pada impresi pertama, dan jangan ditambah-tambahkan lagi di kepalamu. Maka sesungguhnya tidak ada yang benar-benar bisa terjadi kepadamu." -Marcus Aurelius (Meditations).


Langkah-langkah yang bisa diambil saat kita mulai merasakan emosi negatif (mau mengamuk, sedih, baper, frustasi, putus asa, dan lain-lain) dapat disingkat S-T-A-R (Stop, Think & Assess, Respond):


1. STOP (berhenti). Begitu kita merasakan emosi negatif, secara sadar kita harus berhenti dulu. Jangan terus larut dalam perasaan tersebut.


2. THINK & ASSESS (dipikirkan dan dinilai). Sesudah menghentikan proses emosi sejenak, kita bisa aktif berpikir. Kemudian, mulailah menilai (assess), apakah perasaaan ini dibenarkan atau tidak? Contoh: Permintaan dari atasan yang dirasa "menakutkan", misalnya diminta berbicara di depan umum, depan ratusan orang. Rasa gentar yang mendadak muncul kemudian saya analisis. Ternyata, saya gentar karena takut membayangkan saya gagal (irrasional karena belum terjadi) dan takut orang lain menganggap penampilan saya buruk (irrasional karena opini orang lain tidak berada di bawah kendali kita). Saya juga gagal memisahkan antara fakta objektif (berbicara di depan banyak orang) dan interpretasi pribadi (saya akan mempermalukan diri sendiri). Sesudah melakukan think & assess, saya pun berangsur lebih tenang dan bisa menerima tugas dari atasan.


3. RESPOND. Sesudah kita menggunakan nalar, berupaya untuk rasional dalam mengamati situasi, barulah memikirkan respons apa yang akan kita berikan. 


Kapan kita tahu, kita harus melakukan S-T-A-R? Begitu kita mendeteksi adanya emosi negatif dalam setiap situasi yang dihadapi. Memberikan diri kita kesempatan untuk berpikir rasional hampir selalu lebih baik dibandingkan dengan terus-menerus membiarkannya ditarik ke sana kemari oleh emosi. Dalam Discourses, Epictetus berkata, "Jangan biarkan peristiwa yang ada (di depanmu) menggoyahkan dirimu. Katakanlah (kepada peristiwa/kejadian itu), 'Tunggu dulu; biarkan saya memeriksamu sungguh-sungguh. Saya akan mengujimu terlebih dahulu' ." Epictetus mengingatkan agar kita tidak tergesa-gesa menilai, apalagi bertindak atas apa yang kita rasakan dan pikirkan tanpa dianalisis terlebih dahulu.


Menurut banyak penelitian, kemampuan mental kita memang mirip dengan otot. Kebiasaan berpikir bisa dilatih seperti mengangkat barbell atau lari maraton, semakin sering dilatih maka semakin kuat. "Jagalah senantiasa persepsimu, karena ia bukan hal yang sepele, tetapi merupakan kehormatan, kepercayaan, ketekunan, kedamaian, kebebasan dari kesakitan dan ketakutan - dengan kata lain, [persepsimu adalah] kemerdekaanmu" - Epictetus (Discourses).


Sudah saatnya kamu menyadari bahwa kamu memiliki sesuatu di dalam dirimu yang lebih kuat dan ajaib daripada hal-hal yang mempengaruhi layaknya sebuah boneka.


BAB 5 (Filosofi Teras - Henry Manampiring) 

0 comments:

Post a Comment