Apa itu Deep Learning - Dr. Cepi Riyana, M. Pd.

Friday, December 27, 2024


Kali ini penulis mengikuti webinar yang diadakan oleh "SatuGuru" selama  seminggu dengan pakar pendidikan. Malam kedua webinar ini berjudul "Apa Itu Deep Learning" yang diisi oleh narasumber Dr. Cepi Riyana, M.Pd. 

Deep learning, yang dalam konteks pendidikan merujuk pada pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam dan kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar menghafal, semakin populer. Pendekatan ini sejalan dengan tuntutan zaman yang menuntut individu memiliki keterampilan abad ke-21 seperti pemecahan masalah, kreativitas, dan berpikir kritis.

Materi pelajaran disajikan dengan konteks yang relevan dengan kehidupan nyata, sehingga murid dapat menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dengan pengalaman mereka. Selain itu, pembelajaran berbasis proyek dan penemuan juga menjadi ciri khas deep learning. Murid didorong untuk mencari solusi atas permasalahan yang kompleks, mengembangkan keterampilan kolaborasi, dan mempresentasikan hasil kerja mereka.

Salah satu kunci keberhasilan implementasi deep learning adalah peran guru sebagai fasilitator. Guru tidak lagi menjadi pusat perhatian, melainkan sebagai pembimbing yang membantu murid membangun pengetahuannya sendiri. Guru perlu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk eksplorasi, memberikan umpan balik yang konstruktif, dan mendorong murid untuk berpikir secara mandiri.

Teknologi juga berperan penting dalam mendukung implementasi deep learning. Penggunaan berbagai platform pembelajaran online, aplikasi pendidikan, dan alat analisis data dapat memperkaya pengalaman belajar murid. Selain itu, teknologi juga dapat membantu guru dalam memantau perkembangan belajar murid dan memberikan pembelajaran yang lebih personal.

PENDALAMAN DEEP LEARNING: APA, MENGAPA, BAGAIMANA
Isu menarik yang belakangan banyak dibicarakan oleh banyak pihak di kalangan pendidik. Deep Learning meskipun sudah lama sekali secara konsep dan implementasi di dunia, namun Indonesia relatif masih baru bagi guru. Kita perlu bedah apa, mengapa dan bagaimana serta bisa menerapkan deep learning  dalam pembelajaran kita.

Satu hal yang perlu kita pahami, pemerintah mengeluarkan peta jalan pendidikan nasional dengan melihar refrensi dunia, yaitu Megatren Global meliputi:
1. Kajian kemanusian universal dan kewarganegaraan global
2. Urbanisasi global
3. Demografi penduduk dunia
4. Perubahan lapangan kerja
5. Pendidikan dan kemajuan teknologi
6. Perubahan iklim

Dari beberapa isu dunia di atas, pemerintah dalam pendidikan ke depan membuat framework, framework mengacu tujuan pendidikan nasional, ini bisa terwujud ke dalam empat pilar, yaitu:
1. Akses pendidikan berkeadilan
2. Mutu pendidikan holistik dan konstektual
3. Relevansi pendidikan dengan tujuan nasional
4. Tata kelola pendidikan, partisipatif, dan akuntabel

Disini kita melihat bahwa menuju Indonesia emas 2045, tentu kita harus menyiapkan segala sesuatu, salah satu diantaranya mendesain kurikulum dan pembelajaran. Inilah letak dari posisi model atau kerangka pemikiran implementasi pembelajaran seperti apa untuk konteks sekarang dan masa depan. Oleh karena itu, kita bahas tuntas terkait konsep deep learning. 

Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Pd menyatakan tentang deep learning, beliau mendorong pembelajaran yang mindful (reflektif dan mendalam), meaningful (kebermanfaatan ilmu), dan joyful (belajar menyenangkan). Deep learning itu bukan kurikulum, namun pendekatan dalam pembelajaran. Konsekuensinya ada perubahan terhadap muatan materi pelajaran yang kini terlalu berat atau banyak pokok bahasannya sehingga pembelajaran sekarang menjadi tidak mendalam, dengan deep learning ini, beliau memilih pokok bahasan esensial, dengan itu ruang membahas secara mendalam pokok bahasan secara terbuka, murid dan guru ada interaksi yang bahagia, sehat dan produktif.

Pemikiran deep learning kali ini berdasarkan kajian akademik dari beberapa referensi yang relevan. Jika kita mengkaji banyak referensi sudah membicarakan deep learning dari tahun-tahun lama, cukup kaget ada sejak tahun 60an. Artinya pemikiran deep learning sudah sejak lama berkembang. Kita fokus pada buku popular terbit tahun 2018 berjudul “Deep Leaning: Engage the World” oleh Michael Fullan, Joanne Quinn, dan Joanne McEachen, membahas pendekatan inovatif dalam pendidikan yang bertujuan untuk menciptakan pembelajar aktif yang dapat memberikan kontribusi nyata dalam kehidupan pribadi dan sosial. Konsep “pembelajaran mendalam” atau deep learning sebagai paradigma pendidikan baru yang menekankan pengembangan keterampilan abad ke-21 seperti kreativitas, kolaborasi, pemikiran kritis, dan komunikasi. Substansi buku ini berfokus pada:
1. Urgensi Deep Learning
Kelemahan sistem pendidikan tradisional yang fokus pada hafalan dan kurangnya relevansi dengan kebutuhan nyata. Deep learning dipandang sebagai solusi untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan global dan mengembangan potensi mereka.

2. Kerangka Deep Learning yang Berpusat pada 6 Cs
Character (Karakter), Citizenship (Kewarganegaraan), Collaboration (Kolaborasi), Communication (Komunikasi), Creativity (Kreativitas), dan Critical Thinking (Berpikir Kritis)

3. Paradigma Baru dalam Pendidikan
Dengan paradigma baru yang lebih aktif, inslusif, dan kontektual. Pembelajaran mendalam mendorong siswa untuk menemukan makna, memecahkan masalah nyata, dan bekerja sama dengan komunitas lokal maupun global.

4. Peran Guru sebagai Desainer Pembelajaran
Guru memiliki peran penting sebagai fasilitator dan desainer pengalaman belajar yang mendorong keterlibatan murid. Diperlukan strategi praktis untuk mendesain pembelajaran yang berbasis proyek, tugas-tugas autentik, dan penggunaan teknologi secara efektif.

5. Membangun Kapasitas Sekolah
Transformasi pendidikan memerlukan perubahan di tingkat sekolah. Perntingnya kepemimpinan sekolah, budaya, kolaborasi, dan pengembangan professional guru untuk mendukung implementasi deep learning.

6. Pengukuran dan Evaluasi Pembelajaran Mendalam
Deep learning mengukur hasil belajar, yang tidak hanya berfokus pada nilai akademik, tetapi juga pengembangan karakter dan keterampilan murid.

7. Menggerakkan Perubahan Secara Sistematik
Deep leaning  membahas tentang bagaimana menciptakan perubahan sistemik dalam pendidikan yang melibatkan sekolah, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya.

FRAMEWORK DEEP LEARNING



Pembelajaran deep learning bersifat holistik. Berbagai macam teori pembelajaran tetap diterapkan dalam framework deep learning. Ada empat hal pokok menerapkan deep learning, yaitu:
1. Praktek ilmu pendidikan (pedagogis)
2. Kemitraan dalam Pembelajaran
3. Lingkungan Belajar yang Kondusif
4. Pemanfaatan Digital

Namun, empat hal di atas harus sesuai kondisi dari sekolah mendukung deep learning. Semua harus memiliki kesiapan tidak hanya di level guru dan sekolah. Memahami deep learning dalam konteks dalam referensi buku terbit tahun 2020 "Dive Into Deep Learning: Tools for Engagement" oleh Joanne Quinn, membahas kelanjutan dari konsep deep learning yang diperkenalkan dalam karya sebelumnya oleh Joanne Quinn dan rekannya, Michael Fullan. Fokus utamanya adalah pada alat, strategi, dan praktik konkret yang mendukung pendidi untuk menciptakan keterlibatan yang lebih dalam di kelas. Menyajikan panduan praktis bagi guru, pemimpin sekolah, dan pendidik untuk menerapkan deep learning  secara efektif, bagaimana membawa pembelajaran mendalam ke ruang kelas untuk benar-benar melibatkan siswa . Substansi utama buku ini adalah:
1. Tools For Engagement 
Perlu strategi, alat dan metedologi untuk menciptakan lingkungan belajar yang menarik, menantang, dan autentik

2. Praktek Autentik
Pembelajaran berbasis proyek dan kegaiatan autentik sebagai alat utama untuk menghubungkan siswa dengan dunia nyata

3. Penerapan 6Cs 
4. Mendorong Kemandirian Belajar
5. Evaluasi pada Skills dan Learning Process

6. Menggunakan Teknologi Secara Efektif
Pemanfaatan teknologi digital sebagai bagian dari pembelajaran mendalam.

PENERAPAN DEEP LEARNING


Tidak ada rujukan secara utuh bagiannya menjadi 3 seperti di atas mindful learning, joyful learning, dan meaningful learning. Namun, beberapa literatur dapat diambil intisari memuat 3 bagian tersebut adalah mindful learning perlu kesadaran penuh dalam belajar (pembelajaran membantu individu untuk mengenali konteks baru, menjadi lebih terbuka, dan mendorong ekplorasi alternatif yang lebih kreatif), melepaskan kebiasaan belajar secara otomotis (materi tidak hanya dihafal, tetapi benar-benar dimaknai dan diterapkan), dan mengintegrasikan kesadaran emosional (pembelajar diajarkan untuk mengenali, menerima, dan mengelola emosi mereka selama  proses belajar). Bagaimana kita menerapkan ? Paling tidak kita melakukan tiga hal, yaitu (a) relevant prior knowledge, pengetahuan sebelumnya yang bermakna; (b) meaningful material, materi belajar yang bermakna; (c) to learn meaningfully, untuk proses belajar secara bermakna. Dari sini, mendorong siswa untuk mengaitkan konsep baru yang akan diajarkan dengan konsep yang sebelumnya sudah mereka pahami, pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan baru dengan konseprelevan yang telah diketahui, dan pengetahuan baru harus berinteraksi dengan struktur pengetahuan pembelajar. 



Setiap capaian pembelajaran dibungkus dengan deep learning ini. Jika melakukan pembelajaran dengan deep learning, maka pendekatan deep learning tidak ada urutan baku karena deep learning merupakan pendekatan bisa dilakukan dimanapun startnya. Ada 3 komponen yang bisa dilakukan, yaitu (a) belajar dengan penuh kesadaran atas apa yang akan dan sedang dipelajari; (b) belajar mendalam menghasilkan kebermaknaan (long term/permanen); dan (c) setiap fase secara psikologis dalam belajar menyenangkan sehingga memudahkan keberhasilan belajar.


Kita tarik dari tahun 2004 sampai sekarang, paling pokok pembelajaran harus bersifat SCL (Student Center Learning).


Relevansi Deep Learning dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara, pendidikan harus membuat siswa sadar akan dirinya sendiri, potensinya, dan lingkungannya. Proses pembelajaran melibatkan kesadaran penuh, tidak hanya melalui kognisi tetapi juga perasaan dan tindakan, serta spiritual.


0 comments:

Post a Comment