Anak adalah permata hati yang harus dijaga dan dipantau perkembangannya sehingga mereka bisa tumbuh dengan baik. Perkembangan dan pertumbuhan mereka akan mempengaruhi emosional, psikologi, mental, sikap, dan tingkah laku mereka ke depannya. Apalagi dewasa ini, perkembangan teknologi digital tidak bisa diabaikan begitu saja sehingga orang tua harus selalu waspada dengan perkembangan teknologi itu sendiri.
Siang hari ini, Senin, 16 Desember 2024 pukul 14.00-15.30 WIB adalah pertemuan pertama di kelas GMLD APKS PGRI. GMLD adalah singkatan dari Guru Motivator Literasi Digital. Omjay mengajak peserta GMLD untuk sama-sama belajar. Omjay mulai dengan materi pertama dengan tema "Membangun Digital Space yang Aman untuk Anak". Biodata narasumber kita siang hari ini adalah Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd yang biasa disapa Omjay. Biodata beliau dapat dibaca di https://wijayalabs.com/about. Channel Youtube beliau dapat ditonton di https://youtube.com/wijayalabs.
Bagaimana cara membangun tempat yang aman untuk anak dalam bermedia digital? Pertanyaan inilah yang akan omjay sampaikan sedikit demi sedikit kepada anda semuanya. Buat kawan-kawan peserta GMLD yang belum ikut acara webinar dan open ceremony 3 tahun lalu, bisa membaca dan menontonnya di https://wijayalabs.com/2021/10/29/rekaman-acara-webinar-guru-motivator-literasi-digital/. Memang kita harus duduk sebentar menyimak materi ini supaya anda mengerti bahwa membangun digital space buat anak tidaklah mudah. Sebab gelombang informasi begitu cepat dihadapi anak-anak kita. Banjir informasi tidak bisa dicegah melalui HP anak-anak kita.
Ada 4 hal dalam literasi digital yang harus kita kuasai, sehingga kita bisa menyampaikannya kepada peserta didik kita, yaitu: kecakapan digital, budaya digital, etika digital, dan keamanan digital. Kita harus mengajak anak untuk memahami perkembangan dunia digital, kemudian ajak anak untuk memahami perkembangan dunia digital, lalu beritahu apa saja resiko kejahatan siber kepada anak, dan bagaimana cara aman dan nyaman berinternet bersama keluarga tercinta. Membangun Digital Space Yang Aman Untuk Anak. Lalu bagaimana kita membangunnya? Adapun caranya adalah membaca obyek materi yang Omjay bagikan.
Data di atas merupakan hasil penelitian di tahun 2021, mungkin sekarang datanya sudah lebih mengerikan lagi bila kita tak peduli dengan anak-anak kita. Oleh karena itu, kita perlu memberikan CABE kepaad anak-anak kita. Apa itu CABE? CABE itu singkatan dari Cakap, Aman, Budaya, dan Etika Digital. Jadi anak-anak kita harus cakap digital, menjaga keamanan digital, melakukan budaya digital, dan memiliki etika digital saat terhubung ke dunia maya. Dari hasil survey Google bersama Trust dan Safety research pada bula Februari 2021, ada 51 % orang tua di Indonesia merasa khawatir tentang keamanan digital anak. Bahkan ada 42 % orangtua mengkhawatirkan 3 hal yaitu keamanan informasi anak, anak-anak menerima konten yang tdk pantas, dan anak-anak menerima perhatian dari orang yang tidak dikenalnya.Resiko kejahatan di ruang digital pada anak yang sering terjadi adalah kecanduan games, cyberbully, pelanggaran privasi, kejahatan seksual dan lain-lain yang bisa kita baca di media sosial. Hal ini Omjay dapatkan juga informasinya dari Mbak Ely Nurul (Ketua Emak-Emak Blogger) yang menyampaikannya saat menjadi narasumber Webinar literasi digital bersama omjay, dkk.
Rata-rata anak mengakses internet selama 4-5 jam per hari. Penggunaannya untuk berbagai tujuan, mulai dari belajar, bermain media sosial, hingga mengakses beraneka konten di jagat maya. Tanpa pengawasan dan pengaturan berarti, anak-anak sangat berisiko terpapar konten yang tidak sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, orangtua didorong untuk lebih peduli dalam mendampingi anak mengakses internet dan mengatur penggunaannya. Sayangnya, sekitar 74 persen anak yang menggunakan gawai dan internet tidak mempunyai pengaturan dengan orangtuanya. Padahal, dengan pengaturan, anak-anak akan lebih terkawal dan termonitor dalam mengakses internet. Pengaturan itu dapat diterapkan dengan membatasi durasi anak memakai gawai. Sebagai contoh, anak diberi waktu menggunakan gawai pada hari tertentu seperti pada akhir pekan. Sementara bagi anak usia sekolah yang membutuhkan internet untuk pembelajaran, dapat dibatasi hanya dua jam. Bisakah ini dilakukan?





0 comments:
Post a Comment