Spiritualitas Guru Indonesia - Dr. Fahruddin Faiz

Thursday, December 26, 2024


Liburan Nataru 2024 ini sangat spesial, karena ditemani webinar melalui zoom bersama Dr. Fahruddin Faiz dengan tema "Spiritualitas Guru Indonesia" yang diselenggarakan oleh komunitas Satu Guru. Tentunya webinar hari pertama, kita sebagai guru, ilmu ini sangat perlu diterapkan oleh kita.  

Zaman dulu kenapa bisa memproduksi generasi yang luar biasa? Karena dalam dirinya beres, ternyata ada 5 ideal diri menurut Ibnu Sina yang diperlukan oleh diri kita sebagai guru, yaitu:
1. Jasmani Sehat
Secanggih apapun kita, sedasyat apapun pikiran/gagasan  kita, atau sedalam apapun analisis kita, jika kita mengajar dalam keadaan sakit maka  pemanfaatannya akan berkurang banyak. Pastikan kita sehat secara jasmani. Mari kita hidup sehat sebagai guru.

2. Emosi Stabil
Seseorang yang bisa mengendalikan emosi. Apapun jenis emosi dialami bisa mengendalikan atau mengontrol dirinya. Apalagi dunia kita dunia pendidikan, sangat dituntut mengendalikan emosi.

3. Hati Jernih
Biasa berhubungan dengan perilaku dan akhlak seperti sombong, iri atau dengki dan sebagainya termasuk dosa atau maksiat. Kita orang akademisi, orang yang diamanati oleh Allah ilmu, mari pastikan diri hari jernih biar ilmu kita membawa kebermanfaatkan.

4. Pikiran Tajam
Tidak hanya cerdas, bisa menganalisis kondisi dengan tepat

5. Spiritualitas Hidup
Sisi dalam diri kita yang perlu dikelola. Jika kita orang beragama maka banyak media meningkatkan spiritualitas. Seperti puasa jalan, tapi masih menyakitkan orang ngomong artinya religius jalan, namun spiritualitas belum jalan.

Sebaik-baiknya manusia menurut novel berjudul Hay ibn Yaqzan karya Ibnu Tufail bahwa banyak memiliki wawasan namun juga dalam menjalani kehidupan ia penuh makna. Hay ibn Yaqzan kita artikan orang hidup dan bangun, dari nama ini mengandung filosofi. Banyaknya orang hidup tidak bangun. Hidup rutin seperti robot, tetapi tidak kenal dirinya. Kenapa tidak paham menjadi guru? Apa makna kita menjadi guru? Kita hanya mengajar, ternyata setahun berlalu. Kita hidup tanpa sadar. Ada sebaliknya orang bangun, tidak hidup. Konsep-konsep spiritualitas paham teori-teorinya, namun tidak diterapkan dalam kehidupannya. Sederhananya, spritualitas memiliki hidup dan bangun dalam dirinya, sehingga pentingnya spiritualitas. Ciri orang yang cerdas secara spiritualitas yang hidup ada 7 hal seperti berikut ini:
1. Pemahaman Diri
Sebelum memahami murid, perlu kenal siapa kita? karakter kita? kelemahan kita? apa yang kita bisa? Maka pemahaman diri adalah kunci menghidupkan spiritualitas. 

2. Sadar Tujuan
Banyak diantara hidup kita sudah rutin, tanpa sadar tujuan, untuk apa kita hidup? baik jangka pendek atau jangka panjang. Apakah jalan hidupku sudah sesuai? Maka kuncinya adalah sadar tujuan. Begitu juga pembelajaran, tidak sekedar formalitas, harus sadar tujuan dibawa kemana akhirnya agar kita terarah.  Sebagai guru pasti punya tujuan, namun pastikan tujuan tidak bertentangan dengan tujuan puncak yaitu kembali kepada Allah. Artinya semua resolusi tujuan tidak boleh menghalangi kita untuk lebih dekat kepada Allah, sehingga membuat kita lebih kokoh, jadi tidak takut diberhentikan atau dimutasi dan lain-lain. 

3. Komitmen Nilai
Orang yang spiritualitas tinggi memiliki kuat komitmen terhadap nilai-nilai. Komitmen diri mendorong dirinya mengikuti nilai-nilai yang ada. Manusia itu mulia ketika mampu menegakkan nilai-nilai.  

4. Kebijaksanaan
Bijaksana itu penting dalam hidup, tidak sekedar benar. Kebijaksanaan diterapkan pas atau paham kondisi sesuai ruang dan waktu, tidak membabi buta dengan kebaikan yang diyakininya. Misalnya, mau berbicara 2 jam, bener isinya baik tetapi tidak bijaksana, bisa saja audience bosan.

5. Ketenangan
Orang yang spiritualitas hidup akan sadar tujuan, komitmen nilai, dan bijaksana maka lebih tenang. Orang yang tenang pasti paham perlu proses, sehingga perlu sabar. Kadang hasilnya tidak selaras dengan keinginan kita, sehingga perlu sabar. Sabar dari, sabar ketika mendapatkan musibah/kesulitan, kita tidak mengeluh/putus asa. Sabar untuk, untuk menjalankan kebaikan/latihan. Orang yang punya kualifikasi sabar, maka hidupnya lebih tenang.

6. Kedalaman
Hidup penuh makna, tidak dangkal, melakukan sesuatu lebih bermakna, tidak tampilan luarnya saja. Setiap kata atau keputusan yang dikeluarkan ada maknanya. Misalnya, menngobrol tidak basa-basi saja, ada maknanya.

7. Keterhubungan
Seseorang sadar menjalin hubungan baik semesta, Tuhan, dan sesama dengan dasar cinta kasih sayang.


Pertama “guru formal”, isinya hanya mengajar, menyampaikan atau mentransfer saja dari teori-teori kepada murid. 

Kedua “guru inspiratif”, tidak mendikte, guru hanya mendorong namun muridnya bergerak sendiri untuk aktif semangat belajar sendiri mencari materi tanpa disuruh guru. 

Ketiga “guru praktis”, langsung mengajak atau membimbing murid lebih ke praktek, seperti mengajarkan langsung puasa, shalat dhuha atau lainnya.

Keempat “guru rohani”, tidak sekedar menginspirasi, guru mempengaruhi muridnya, mengarahkan murid menuju kedekatan dengan Tuhan, tidak hanya mengajar, tetapi mentramisi energi kepada murid, murid otomatis terpengaruh saat didekat kita. 

Kelima “guru sejati”, jika sudah ada level ini, maka apapun peristiwa fenomena adalah pelajaran, disitulah bisa menemukan hikmah, gurunya tidak harus orang, bisa saja alam atau apapun, bisa menemukan ayat-ayat Allah ada dimana-mana. Mari kita posisikan diri kita sebagai guru jika ingin meningkatkan spiritualitas murid. 

Materi penting, namun metode lebih penting dari metode. Metode penting, namun guru lebih penting dari metode. Dah ruh seorang guru lebih penting dari guru. (Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A)

Dr. Fahruddin Faiz menganalogikan guru sebagai wadah. Kita adalah guru yang mentransfer ilmu seperti wadah gelas, maka gelas harus bersih agar bisa menyampaikan ke murid. Bagian penting dari guru adalah jiwanya. Jika jiwa kita penuh kesombongan, maka ilmu itu jadi alat untuk sombong. Oleh karena itu, sangat penting bagi guru membereskan jiwa spiritualitas.


Kita mengajar mencari manfaat guna untuk kita sebagai individu, misal alhamdulillah paham ilmu bisa digunakan untuk ini itu, dapat ijasah murid untuk kerja dan lain-lain. Maslahat, manfaat yang lebih luas, misal alhamdulillah setelah melakukan ini banyak yang tertarik, alhamdulillah spiritualitas meningkat. Barakah, manfaat dan maslahat lebih luas, misal mengajar online ternyata efeknya kemana-kemana, lebih banyak hasilnya daripada ikhtiarnya. Untuk lebih dapat barakah pastikan lima hal ini, yaitu:
1. Niat
Niatnya dapat uang saja sulit dapat berkah, apalagi hanya gugurkan tugas apalagi mengeluh sulit dapat berkah. Ini tanggung jawabku lebih lillah ta'ala.
2. Kaifiat
Tujuan baik, caranya tidak baik, maka sulit dapat berkah. Niatnya baik, maka caranya baik.
3. Khidmat
Penghormatan/pengabdian yang berhubungan dengan ilmu. Ilmu dekat dengan kita harus dihormati. termasuk sekolah kita, murid kita, perpustakaan, teman belajar, atau teman mengajar. 
4. Tanpa Ma'siat
Ilmu itu mulia, tidak boleh digandeng dengan dosa. Pernah Imam Sya'fii merasa sulit menghapal, biasa gampang, beliau menghadap gurunya, kenapa aku sulit menghapal? Kamu jangan melakukan ma'siat, karena ilmu itu cahaya tidak pernah turun kepada kegelapan.
5. Berdoa/Mendoakan/Minta Didoakan
Mari berdoa kebaikan untuk ilmu. Tidak hanya sekedar berdoa, tapi mendoakan oranglain, namun jangan sungkan minta didoakan.


Kata Imam Sya'fii, jasad beharga/bernilai ada jiwa, jiwa ini beharga jika ada ilmu, semakin banyak ilmu berkualitas hidup kita. Ilmu itu beharga ketika ada amal dalam kehidupan sehari-harinya dan amal itu beharga jika ada ikhlasnya. 


Murid banyak menyerap frekuensi dari kita. Jadi yang kita getarkan kepada murid harus positif. Mari cermati diri kita, kita ada di bagian mana. Biar pengaruh kepada murid lebih banyak yang positif. 


"Guru biasa memberi tahu, guru yang baik menjelaskan, guru yang menganggumkan memberi contoh, dan guru yang hebat menginspirasi." [William Arthur Ward]

0 comments:

Post a Comment