Sore ini, 29 Desember 2024, kita ditemani narasumber Sabrang Mowo Damar Panuluh, yang lebih dikenal dengan nama panggungnya, Noe Letto, Sabrang Mowo Damar Panuluh merupakan anak dari ulama serta budayawan ternama Indonesia, Cak Nun. Namanya sudah dikenal cukup luas di dunia hiburan tanah air. Lahir pada tanggal 10 Juni 1979, Noe merupakan anak pertama dari budayawan terkenal, Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun.
Dia menghabiskan masa kecilnya di Lampung, di mana dia menempuh pendidikan di SD 1 Yosomulyo dan SMP Xaverius Metro. Semasa SMP, dia mulai tertarik pada musik, terutama setelah mendengarkan kaset lagu-lagu Queen yang diberikan oleh pamannya. Itu memicu minatnya dalam menciptakan musik yang bisa menggerakkan hati orang lain. Setelah menyelesaikan SMP, Noe kembali ke Yogyakarta dan melanjutkan pendidikan di SMU 7 Yogyakarta. Di sana, dia bergabung dengan komunitas ayahnya dan bertemu dengan teman-temannya yang juga anggota band Letto. Namun, pada tahun 1997, Noe harus melanjutkan pendidikan tinggi ke Universitas Alberta, Kanada, di mana dia mengambil jurusan matematika dan fisika. Kehidupan di Kanada tidaklah mudah bagi Noe. Krisis moneter membuatnya harus bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan membiayai pendidikannya. Namun, dengan tekad dan ketekunan, Noe berhasil menyelesaikan pendidikan tingginya dan kembali ke Yogya dengan gelar Bachelor of Mathematics dan Bachelor of Physics. Setelah kembali ke Indonesia, Noe dan teman-temannya membentuk band Letto, di mana dia menjabat sebagai vokalis dan keyboardis.
Dunia terus berubah dengan sangat cepat, didorong oleh perkembangan teknologi yang pesat. Untuk menghadapi perubahan ini, pendidikan harus mampu beradaptasi dan relevan dengan kebutuhan zaman. Pendidikan yang kompatibel dengan zaman adalah pendidikan yang mampu membekali siswa dengan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk sukses di masa depan.
Salah satu ciri pendidikan yang kompatibel dengan zaman adalah fokus pada pengembangan keterampilan abad ke-21. Keterampilan seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi menjadi semakin penting dalam dunia kerja yang semakin kompleks. Pendidikan harus merancang pembelajaran yang mendorong murid untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut melalui proyek-proyek berbasis masalah, diskusi kelompok, dan penggunaan teknologi.
Selain itu, pendidikan yang kompatibel dengan zaman juga harus mampu mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran. Teknologi dapat digunakan sebagai alat untuk memperkaya pengalaman belajar siswa, seperti melalui penggunaan platform pembelajaran online, simulasi, dan game edukasi. Namun, penting untuk diingat bahwa teknologi hanyalah alat. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Paradigma pendidikan berbeda setiap negara. Sebuah negara atau sosial memandang konsep pendidikan dari konsesus/kamus bahasa, karena terlihat peradaban dari sana. Kamus Indonesia, konsepnya adalah membentuk perilaku manusia, berbeda konsep peradaban lain, misal dalam kamus bahasa inggris, ilmu baru termasuk pendidikan. Ketika kalimat “perilaku manusia” ada asumsi guru pasti lebih baik dari zaman sehingga membentuk perilaku anak didiknya, satu sisi sangat tepat, namun berbahaya karena ada kondisi-kondisi yang tidak terpenuhi juga. Salah satunya kondisi dimana teknologi bergerak cepat, membentuk perilaku manusia di sosial media masalah yang lebih berat, karena guru tidak paham media sosial daripada muridnya.
Apakah pendidikan ini hanya urusan belajar mengajar saja? Pendidikan berhubungan dengan era peradaban, berarti mengakar pada metode pendidikan yang membentuk perilaku manusia. Kenapa manusia butuh metedologi pendidikan? Kenapa pendidikan harus ada instusi atau ada ijazah? Konsep peradaban sistem pendidikan ini lahir dari pekerja saat Revolusi Industri Perancis yang menghasilkan pendidikan sekarang, Apa dibutuhkan Revolusi Industri Perancis? Pekerja yang banyak dan skill yang jelas, sehingga pabrik mendapatkan pekerja dengan cepat dan terstandar yang baik. Pihak pabrik ini mengecek 10.000 orang tidak mampu kemudian diserahkan ke negara. Negara membuat sebuah metedologi yang namanya pendidikan berjenjang, seperti SD, SMP dan SMA.
Sistem pendidikan bukan mendidik anak seperti orangtua kepada anak berharap jadi anak yang benar tapi pendidikan sekolah sekarang menjadikan lulusannya calon anak masyarakat yang produktif. Sekolah tanggungjawabnya membangun pengetahuan yang terstruktur, namun pengalaman pengetahuan pratikal bisa diajarin oleh orangtuanya tanpa harus sekolah, dua-duanya harus imbang. Sekolah diajarin data dan masih tergantung guru. Jika diajarin data, kita diajarin piring, gelas, dan meja. Jika diajarin pengetahuan, kita diajarin meja, diatasnya ada piring, disampingnya ada gelas. Jadi ilmu itu terkoneksi, dari data-data yang didapat ada hubungan satu sama lain, ini namanya pengetahuan. Sekolah sekarang semua di kepala anak dapatnya menjadi data, bisa mudah telupakan, hal ini terjadi karena tidak bisa mengoneksikan ilmu. Efeknya sekolah hanya mendapatkan data, sekolah mencari lulus agar bisa lulus mencari kerja.
Sebuah Universitas salah satu fungsi adalah memfilter kapasitas mahasiswa, saat mahasiswa punya ijazah tertentu, lulus punya skill tertentu, sosial punya jaminan. Ketika negara membuat peraturan dimana rating universitas dari jumlah lulusan, maka universitas punya motif punya meluluskan sebanyak mungkin mahasiswa, efek sampingnya lulusan tidak punya standar dari kapasitas yang jelas. Akhirnya alasan pendidikan formal, fungsi sosialnya menjadi rusak. Terbukti 86% lulusan mahasiswa Indonesia bekerja tidak sesuai dengan jurusan yang diambil.
Alasan pendidikan Indonesia sekarang tidak ada arah, lulusan SD, SMP, SMA bahkan kuliah hanya meluluskan sebanyak-banyaknya sekedar mendapatkan ijazah, hal ini akibat tidak ada standar dari sekolah/universitas, tentunya pendidikan seperti ini tidak akan melakukan transformasi, bahkan sebatas ilusi. Ijazah hanya formalitas, namun ketika lulus dari sekolah/universitas tidak dapat menunjukkan skill nya, harus diajari lagi. Buat apa? Harusnya semakin banyak belajar ilmu, seharusnya manusia bisa menyelesaikan masalah.
Kenapa manusia perlu mengumpulkan ilmu? Mengumpulkan ilmu seperti mengumpulkan tools, ketika berhadapan masalah punya peralatannya memecahkan masalah sehingga menjadi orang yang berguna. Artinya kebutuhan belajar adalah jenjang manusia mengumpulkan peralatan untuk menyesaikan masalah. Ini yang berubah di zaman ini. Kita belajar matematika, siapa tahu dipake, kita belajar biologi, siapa tahu dipake, dan lain-lain. Perkembangan teknologi secara cepat, tidak perlu menunggu orang punya kemampuan menyelesaikan masalah, namun mendapatkan ilmu tidak susah. Sekarang teknologi untuk manusia langsung memecahkan masalah dengan mengumpulkan ilmu.
Institusi yang harus berubah adalah pendidikan, namun fakta lambat bergerak adalah institusi pendidikan. Masalah terbesar adalah penguasa merasa memiliki sistemnya yang baik, sehingga perlu mengganti sistem-sistem yang usang. Harusnya yang bisa memperbaharui sistem adalah orang yang di luar sistem, bisa memberikan usulan sistem dan perlunya mengakomodir berbagai alternatif. Membuat program untuk memenuhi masyarakat, bukan keinginan sendiri. Peradaban itu berpuluh-puluh tahun diterapkan, bukan setiap 5 tahun mengganti program.

0 comments:
Post a Comment