PROOFREADING SEBELUM MENERBITKAN TULISAN

Monday, December 4, 2023

Pertemuan ke-12
Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) 30 PGRI
Jum'at, 10 November 2023


Jum'at, 10 November 2023. Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) ke-30 memasuki pertemuan ke-12. Tema kelas malam ini yaitu PROOFREADING SEBELUM MENERBITKAN TULISAN bersama narasumber Susanto, S.Pd melalui daring via WA Group KBMN pukul 19.00 WIB.

Pernahkan membaca sebuah karya tulis kemudian merasa kurang sreg, kurang pas? Mungkin karena banyak tulisan yang typo, atau banyak yang salah ejaan, huruf kapital kurang pas atau tanda baca yang salah rumah. Hummmm jadi gemesss deh bacanya. Nah itulah perlunya proofreading. Apa itu proofreading? Mengapa perlu ada proofreading? Tekniknya bagaimana ya? Waaah banyak sekali pertanyaannya? Daripada pusing tujuh keliling yuuuuk masuk kelas malam ini.

Mari kita cermati tulisan awal moderator, Bu Ovi sebelum memulai kelas kita malam hari ini.

Dahulu kala selama ratusan tahun Indonesia dijajah oleh Portugis, Belanda dan Jepang, hingga dengan kegigihan para pahlawan perjuangan, serta seluruh masyarakat Indonesia dan tidak lupa dengan doa.

Apakah tulisan tersebut merupakan kalimat yang lengkap? Katakanlah, apakah sudah ”selesai”? Tidak mengatakan salah tetapi rangkaian kata yang panjang dan diakhiri tanda titik itu bukan kalimat lengkap, dengan kata lain belum selesai karena unsur utama kalimat tidak ada. Mengapa dikatakan bukan kalimat lengkap atau kalimat yang belum selesai? 

Dahulu kala selama ratusan tahun Indonesia dijajah oleh Portugis, Belanda dan Jepang >> keterangan waktu

hingga dengan kegigihan para pahlawan perjuangan >> keterangan akibat  

serta seluruh masyarakat Indonesia dan tidak lupa dengan doa >> keterangan kesertaan

Keterangan semua! Jelas, ya. Kalimat itu tidak memiliki subjek sebagai unsur pokok kalimat.

A. PROOFRADING DAN SELF EDITING


B. KONTEN ATAU TEKNIK MENULIS


C. APA ITU PROOFREADING ATAU MENGOREKSI TULISAN?


D. KESALAHAN APA SAJA YANG DIKOREKSI? 






Mari, cermati tulisan berikut!


Perhatikan kata-kata bergaris bawah yang berwarna merah.


Apa saja salah-nya?


E. KAPAN PROOFREADING ATAU MENGOREKSI TULISAN DILAKUKAN?


Lihatlah!

Kata bapak dan ayah tidak digunakan secara konsisten

Akupun❌
Aku pun ✅
Kata aku dan saya tidak konsisten digunakan

karirnya ❌
kariernya ✅
Kata saat diulang pada kalimat yang sama

di sebuah Cafe Starbuck 
Lebih efektif mana dibandingkan dengan:
di Cafe Starbuck 

F. SIAPA YANG MELAKUKAN PROOFREADING ATAU MENGOREKSI TULISAN?


DISKUSI
1. Menulis, utamanya sastra atau cerita rekaan kadang lebih bisa dinikmati atau diterima oleh pembaca. Apakah bahasa baku sesuai EYD diperlukan dalam hal tersebut? apakah tidak menjadikan cepat bosan dengan bahasa terkesan kaku?
Melakukan proofreading bukan menjadikan kata atau kalimat pada tulisan menjadi kata atau kalimat baku. Disesuaikan dengan jenis tulisan. Yang kita lakukan adalah mengoreksi kesalahan mikro dalam tulisan. 

2. Dalam mengutip kalimat langsung bisa banyak kalimat yang terlalu panjang, apa bisa di bagi menjadi 2 dan bgmn caranya?
Jika percakapan dikutip, gunakan kalimat tidak langsung, ditandai dengan kata bahwa.

Dalam SEO, kalimat seyogyanya tidak lebih dari 20 kata, namun pada penerbitan, mengikuti aturan media yang bersangkutan. Namun, pada intinya, kalimat pendek maupun kalimat panjang mengandung unsur kalimat yang lengkap.

Jika harus menggunakan kalimat majemuk, yakni beberapa kalimat tunggal digabung menjadi satu, maka tempatkan anak kalimat pengganti keterangan dibuat dengan jelas. Lebih lengkap https://blogsusanto.com/kalimatmu-kepanjangan/

3. Apakah yang dimaksud dengan flayer?
Kata flyer, flayer dalam KBBI VI Daring tidak ditemukan. Mudah-mudahan setelah Konres Bahasa bulan Oktober lalu, saya endengan ada Tim yang akan menambah setidaknya 250 ribu kosa kata baru.

Dalam dunia desain grafis, dikutip dari detik.com, Flyer adalah salah satu alat pemasaran yang dirancang secara tepat dan efektif untuk menyampaikan informasi tertentu kepada pembaca. Dilansir dari buku Photoshop untuk Pekerja Kantoran oleh Hasno Suprayogo, flyer yang juga biasa disebut pamflet adalah salah satu materi promosi yang biasa digunakan perusahaan.

4. Saat menulis, tidak perhatikan ejaan bahasa. Bahkan tanpa konsep SPO-nya. Terpenting apa saja dikepala ditulis. Bagaimana cara mengedit catatan harian agar bisa disusun jadi buku novel? Kira2 apa saja yang harus diperbaiki?
Kadang materi saya menjadi "penghambat" dan menimbulkan rasa takut dan memunculkan keraguan. 
TIDAK PAK Fiksi maupun Nonfiksi, memiliki aturan-aturan atau kaidah-kaidah menyangkut:
struktur, pilihan kata, dan istilah yang dipakai.

Akan tetapi, EYD direvisi hingga Edisi Ke-6, agar tulisan fiksi maupun nonfiksi, kaidah penulisannya benar.

Contoh, meskipun fiksi, seperti diajarkan Pak Sudomo, tempo hari, tidak asal menuliskan, misalnya, dialog.

Contoh sebuah dialog (kutipan langsung perkataan orang):
“Iya Mil aku capek, lelah bertahun-tahun bekerja di sini namun aku belum mendapatkan sesuatu yang kuinginkan.” Jawab Ririn.

Tanda baca pada akhir petikan percakapan tersebut adalah tanda titik. Pertanyaannya, bolehkah? Jika tidak boleh, mengapa tanda tanya, tanda seru, boleh?

Petikan perkataan pada kalimat di atas bukan berupa pertanyaan juga bukan perintah. Seharusnya diakhiri dengan tanda koma karena diiringingi penjelas kalimat petikan yaitu ‘jawab Ririn’.

Bolehkah diakhiri tada titik? Jawabnya, tentu boleh. Akan tetapi kalimat berikutnya berupa narasi, bukan frasa yang mengikuti dialog. Frasa yang mengikuti dialog biasanya diawali dengan ‘dialog tag’

Ini sekelumit aturan atau kaidah penulisan fiksi. Masalah ide, alur, diksi yang digunakan, silakan saja. Penulis merdeka menuliskannya. Lebih lengkap https://blogsusanto.com/petikan-langsung-dan-dialog-tag-menyunting-cerpen/.

5. Biasa menggunakan (sinonim) variasi kata yang berbeda dalam sebuah kalimat. Contoh penggunaan kata "dan" dan "serta". Contoh: "Saya biasa pergi bekerja bersama anak dan istri serta sang sopir." Apakah kalimat saya di atas sudah benar? 
Memvariasikan diksi sah-sah saja. Bahkan, membuat pembaca tidak bosan. Yang tidak dianjurkan adalah pengulangan satu kata dalam kalimat hingga dua atau lebih. Demikian juga dalam paragraf pengulangan kata tertentu akan membuat kalimat tidak efektif dan membuat pembaca menjadi "risi".

Untuk kalimat:

Saya biasa pergi bekerja bersama anak dan istri serta sang sopir.

akan lebih baik jika salah satu saja yang digunakan.

"Saya biasa pergi bekerja bersama anak, istri, dan sopir."



Melakukan proofreading sendiri yang baik dan benar adalah tidak serta merta selesai menulis langsung memeriksa. Beri jeda sejenak untuki menetralkan perasaan. Sebab, sebagai penulis pasti merasa sangat yakin tulisan yang dibuat sudah benar. Dengan memberi jeda beberapa saat, perasaan penulis akan netral dan akan lebih objektif menilai tulisan sendiri.

Kegiatan proofreading: 
1.  Cek ejaan. Ejaan ini merujuk ke KBBI, tetapi ada beberapa kata yang mencerminkan gaya penerbit
2.  Pemenggalan kata-kata yang merujuk ke KBBI
3.  Konsistensi nama dan ketentuan
4.  Perhatikan judul bab dan penomorannya

6. Apakah kita dapat mengidentifikasi area di mana gaya penulisan atau penggunaan kata yang tidak konsisten? Bagaimana kita bisa memastikan keselarasan dalam gaya penulisan sepanjang seluruh tulisan?
Ketidakkonsistenan dalam penggunaan nama atau istilah. Contoh mudah penggunaan kata saya dan aku. Misal dalam satu BAB penggunaan kata aku dan saya berganti-ganti, alih-alih memvariasikan tuturan malah membuat bingung dan membosankan.

Memastikan keselarasan dalam gaya penulisan sepanjang penulisan, salah satu tekniknya denga membaca nyaring tulisan yang sudah selesai. Jika dalam fiksi, gaya tutur orang pertama, kedua, ketiga mestinya konsisten, kecuali pada BAB tertentu yang mengharukan penulis menuturkan dengan sudut pandang (PoV) orang ketiga setelah sebelumnya dengan sudut pandang orang pertama.

Proofreading bukan mengekang kreativitas Anda dalam menulis, namun tulisan yang sudah jadi tetap harus diperiksa.Proofreading dilakukan agar kaidah-kaidah kebahasaan untuk tulisan fiksi maupun nonfiksi. Jika memiliki naskah calon buku, serahkan kepada orang lain untuk melakukan editing. Komunikasi antar editor/proofreader dengan penulis tetap berlangsung jika ada kalimat yang perlu didiskusikan maksud si penulis. Proofreading dilakukan agar kaidah-kaidah kebahasaan untuk tulisan fiksi maupun nonfiksi tetap terjaga.

0 comments:

Post a Comment